Orang yang mempelajari surat ini
harus memahami keunikannya. Tidak ada kitab Perjanjian Baru yang sama dengan
surat ini, dan karena itu surat ini memiliki persoalan-persoalan yang khas.
Dalam bentuk susunan, gaya penulisan, cara mengemukakan alasan dan hubungan
dengan kitab lain di dalam Alkitab, surat Ibrani mempunyai bentuk tersendiri.
Sejarahnya merupakan sejarah yang
penuh kontroversi. Kitab ini pernah diabaikan, dipersoalkan kewenangannya,
dipermasalahkan kanonitasnya, dan diselidiki tanpa belas kasihan untuk
menentukan penulisnya. Akhir-akhir ini, analisis yang kritis telah
mempertanyakan tentang bagian-bagian tertentu dari surat ini, khususnya pasal.Sekarang
sedang diteliti apakah pasal ini ditambahkan secara keseluruhan atau secara
sebagian-sebagian atau apakah surat ini merupakan bagian dari surat yang asli.
Perhatian yang meningkat terhadap masa
Helenistis dalam hubungannya dengan sejarah peradaban umat manusia juga telah
mempengaruhi penelitian Surat Ibrani ini. Beberapa rahasia yang terdapat di
dalam surat ini sekarang diperhadapkan dengan kebudayaan Helenistis dari dunia
Mediterania Timur pasca masa Alexander. Beberapa pakar beranggapan bahwa
orang-orang kepada siapa surat ini ditulis secara langsung sudah terpengaruh
oleh kebudayaan Helenistis dan mungkin benar-benar menjadi dikuasai oleh budaya
Helenis. Pandangan semacam ini cenderung menunjukkan kemungkinan ada revisi
terhadap pandangan yang lama tentang para penerima surat serta maksud
penulisannya.
Konon surat Ibrani ini merupakan surat di
dalam Perjanjian Baru yang paling sedikit diketahui. Pemberian alasan yang
teliti, peristilahan untuk imam dan persembahan kurban, dan idealisme yang
menguasai penulisnya telah dikemukakan sebagai alasan (Purdy and Cotton,
Epsitle to the Hebrews, vol XI. IB). Mungkin ini memang benar, tetapi ada satu
hal yang tampaknya lebih pasti. Surat ini dapat dipahami secara paling baik
apabila kelima kitab Musa dikenal dengan baik sebagai dasar. Pemberian alasan
yang teliti dari sistem berdasarkan kitab Imamat menghubungkan Pentateukh
dengan surat Ibrani.
Masalah-masalah yang terdapat di dalam kitab
ini memang menentang, Singkatnya, masalah-masalah tersebut menyangkut
kepenulisannya, para pembacanya, tempat tujuan pengiriman surat, tanggal
penulisan surat, alasan penulisan, dan hubungannya dengan kekristenan abad
pertama. Yudaisme dan kebudayaan Helenistis.
Alasan
Penulisan Surat ini
Rumusan klasik mengenai alasan surat
ini ditulis adalah sebagai berikut. Orang-orang Kristen Yahudi, apakah hanya
satu jemaat ataukah dalam jumlah yang lebih banyak dan tersebar. secara
geografis, berada dalam bahaya akan meninggalkan Kristus dan kembali ke Musa.
Kemurtadan ini merupakan bahaya yang sudah dekat (Ibr 2:1) dan berlandaskan
pada ketidakpercayaan (Ibr 3:12). Perilaku mengisyaratkan adanya kemungkinan
tersebut (Ibr 5:13,14). Mengabaikan ibadah umum (Ibr 10:25), kelemahan di dalam
berdoa (Ibr 12:12), ketidakmantapan tertentu di dalam melaksanakan doktrin (Ibr
13:9), penolakan untuk mengajar orang lain sebagaimana seharusnya dilakukan
orang yang sudah dewasa imannya (Ibr 5:12). dan mengabaikan Alkitab (TB Ibr 2:1)
merupakan gejala-gejala lainnya dari kelemahan rohani. Bahayanya adalah bahwa
orang-orang yang merupakan "saudara-saudara yang kudus," yang
mendapat bagian dalam panggilan surgawi bisa "murtad lagi" atau "murtad dari Allah yang hidup"
.
Untuk mencegah perkembangan ke arah itu,
penulis surat Ibrani menekankan keunggulan Kristus di dalam serangkaian kontras
dengan para malaikat, Musa, Harun, Melkizedek, dan sistem dari Kitab Imamat.
Tujuan dari semua kontras tersebut ialah menunjukkan keunggulan Kristus dari
Yudaisme.
Pada
saat sang penulis surat mengembangkan pikirannya, dia menjalin tiga buah
konsep. Konsep yang pertama ialah nasihat; yang kedua ialah rangkaian lima buah
peringatan; dan yang ketiga ialah penghiburan atau pemberian kepastian, yang
dikemukakan sekitar sebuah pemikiran yang diperkenalkan dalam istilah
"pandanglah" dan mencapai puncaknya dalam istilah "ingatlah
selalu akan Dia yang tekun…". Berdasarkan konsep-konsep inilah penulis
Ibrani menentang kecenderungan ke arah kemurtadan.
Alur
pemikiran yang dikembangkan oleh para pembaca pendengar sangat menarik. Apabila
mengikut Kristus mengakibatkan seseorang dianiaya, hal mana tidak terjadi
apabila mengikuti kebiasaan Yahudi tradisional, mengapa tidak kembali ke
Yudaisme saja, dengan demikian orang tetap menganut agama tertentu dan pada
saat yang sama bebas dari penganiayaan? Jelas pilihan semacam ini menarik.
Jawaban terhadap pilihan tersebut dikemukakan di dalam surat Ibrani ini, yaitu
dengan memperhadapkan keunggulan Kristus dengan setiap kelemahan dalam
Yudaisme.
Akhir-akhir ini, pandangan klasik mengenai
alasan surat ini ditulis dipertanyakan. Alexander C. Purdy. di dalam ulasan
pendahuluannya untuk Opistle to the Hebrews, (IB. XI. 591, 592) mengemukakan
bahwa pandangan tradisional ini hanya sekedar dugaan saja. Ia mengemukakan
sembilan alasan yang menentang pandangan tradisional lalu menulis,
"Sebagaimana adanya ketika itu, surat Ibrani merupakan sebuah penjelasan
tentang keyakinan tertinggi Agama Kristen yang berlandaskan pada gambaran
pendahuluan yang sah dalam Perjanjian Lama tentang penetapan persembahan kurban
yang sangat perlu untuk. dapat menghampiri Allah, sekarang sudah nyata bagi
semua orang. Yahudi dan bukan Yahudi, di dalam pengorbanan Kristus"
Keyahudian yang kental dari surat Ibrani ini, menurut Purdy. lebih disebabkan
oleh bentuknya dan bukan oleh isi amanatnya. Purdy kemudian mengemukakan bahwa
penulis surat Ibrani ini sedang memerangi sebuah bentuk Gnostik dan Helenisme
Yahudi-Kristen dan bukan Yudaisme itu sendiri, tetapi dia mengakui bahwa
pandangannya ini baru bersifat hipotetis saja.
Apabila kita menyetujui pandangan Purdy bahwa
penulis surat ini sedang memerangi Gnostik Yahudi-Kristen yang berintikan
kebudayaan Helenistis, kita tetap perlu menghadapi kenyataan bahwa tema utama
dari kitab ini mempunyai karakter dan uraian yang bersifat Yahudi.
Sesungguhnya, surat Ibrani mempersatukan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di
dalam pribadi dan karya Yesus Kristus. Surat Ibrani ini dapat dianggap sebagai
perluasan selanjutnya dari Yoh 17 karena menghubungkan doa imam besar dengan
pelayanan Kristus sebagai imam besar. Sebagaimana doa dalam Yoh 17 mencatat
permohonan Tuhan kita agar orang-orang percaya aktif di dalam dunia, di dalam
doa tersebut juga terungkap permohonan "… supaya Engkau melindungi mereka
dari yang jahat". Surat Ibrani memberitahukan cara perlindungan tersebut
dilaksanakan, di bawah tekanan penganiayaan dan godaan untuk murtad. Untuk
memberikan semangat agar perlindungan tersebut dimanfaatkan, penulis surat ini
menyeimbangkan pembahasan yang bersifat doktrinal dengan pemberian nasihat,
yang bersifat pastoral dan yang bersifat praktis, pemberian penghiburan dengan
pemberian nasihat.
Yudaisme,
sebuah "tempat perlindungan menarik" bagi orang-orang Kristen Yahudi
yang sedang dianiaya, karena itu ditentang dengan cara membeberkan perbedaannya
dengan Kristen. Sang penulis bertekad untuk menolong orang-orang percaya
mula-mula ini mengadakan pemilihan bermodalkan pengetahuan mengenai perbedaan
antara Yudaisme dengan karya Kristus bagi dan di dalam diri orang percaya.
Semua ini dirancang untuk meyakinkan orang yang sedang mengalami cobaan itu
mengenai keunggulan Yesus Kristus.
Pada saat yang sama, surat yang dimaksudkan
untuk memberikan semangat kepada orang-orang percaya abad pertama ini juga
mengandung manfaat bagi kita. Surat lainnya di dalam Perjanjian Baru tidak ada
yang sejelas ini menjawab soal "mengapa" ada pengorbanan Kristus itu
dan ada penebusan yang tersedia melalui pengorbanan ini.’Tidak ada surat lain
dalam Perjanjian Baru yang dengan demikian jelas menghubungkan pelayanan ganda
Kristus selaku Anak Allah yang kekal dan selaku Anak Manusia yang menderita.
Dosa, kesalahan, pendamaian, dan pengampunan dosa dapat dipahami secara lebih
lengkap melalui surat Ibrani ini. Kitab ini juga membantu kita memperoleh suatu
pemahaman yang lebih baik mengenai sejumlah kebenaran atau peristiwa dalam
Perjanjian Lama. Juga perbedaan antara Yudaisme dengan kekristenan menjadi
jelas melalui pengajaran dari surat Ibrani ini.
Johannes Schneider menulis, "Surat Ibrani
sangat seadanya dalam menilai kehidupan nyata dari jemaat-jemaat. Penulisnya
memahami berbagai bahaya yang mengancam umat Allah di atas muka bumi ini. Oleh
karena itu surat ini menasihatkan untuk berpegang teguh pada iman dan jangan
tidak setia kepada Kristus" (The Letter to the Hebrews,hlm. 8). Dengan
penekanannya pada pelayanan imamat Kristus, dan sejumlah keuntungan yang
dimiliki orang percaya di dalam Kristus, serta nasihatnya yang kuat untuk
mengembangkan iman yang kokoh, surat Ibrani dewasa ini tetap relevan.
Tanggal dan Tujuan Penulisan Surat Ini
Berbagai faktor ikut menentukan
tanggal surat ini ditulis. Yang terpenting di antara semua faktor tersebut
tampaknya ialah pertikaian Yahudi-Romawi yang terjadi sesudah tahun 68 M serta
dihancurkannya Bait Allah pada tahun 70 M. Memang pertikaian, Bait Allah dan
dihancurkannya Yerusalem tidak disebut di dalam surat ini. Oleh karena itu
muncul dugaan bahwa surat ini ditulis sebelum tahun 68 M atau sesudah tahun 80
M. Tanggal yang lebih awal rupanya lebih tepat, tetapi harus dilihat dalam
kaitan dengan disebutnya Timotius (Ibr 13:23) dan "saudara-saudara di
Itali" (Ibr 13:24). Juga pengetahuan tentang adanya surat ini di dalam
surat Clemens dari Roma kepada jemaat di Korintus (tahun 95 M) memainkan
peranan tertentu di dalam menentukan tanggal penulisan surat ini dan mungkin
juga tentang kepada siapa surat ini ditujukan.
Alasan yang mendukung tanggal yang belakangan
untuk penulisan surat Ibrani ini dikemukakan secara paling baik dalam IB,
Introduction, XI halaman 593, 594. Dengan memadukan berbagai alasan rasional
dan memanfaatkan surat I Clements sebagai titik acuan, IB mengusulkan sebuah
tanggal di sekitar akhir tahun tujuh puluhan dan awal tahun sembilan puluhan,
namun kemudian berkesimpulan bahwa tanggal sesungguhnya tidak jelas.
Sebaliknya, Canon Farrar, Cambridge Greek
Testament (sesudah ini disingkat CGT). mewakili berbagai pandangan abad
kesembilan belas, dan Gleason L. Archer di dalam bukunya The Epistle to the
Hebrews: A Study Manual, dua-duanya mengusulkan tanggal penulisan di antara
tahun 64 M dan 68 M. Archer kemudian mempersempit lagi jangka ini menjadi tabun
65 atau 66 M sebagai tahun yang paling masuk akal, sesuai dengan bukti-bukti
dari dalam dan dari luar surat. Semua pandangan yang dikemukakan mengenai
tanggal penulisan menekankan pentingnya soal tidak tercantumnya dalam surat
tersebut rangkaian peristiwa yang terjadi di Yerusalem pada dasawarsa keenam
abad pertama.
Mengenai
tujuan penulisan, terdapat tiga buah teori utama yang berlaku,
masing-masing menunjuk kepada sebuah kota besar di dunia Romawi dan
Mediterania. Ada yang mengemukakan pandangan keempat yang sebenarnya merupakan
modifikasi dari salah satu teori utama.
(1) Surat ini ditujukan kepada orang-orang
Kristen Yahudi yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya.
(2) Surat ini ditujukan kepada orang-orang
Kristen Yahudi yang tinggal di Aleksandria. Pandangan ini cenderung dianut oleh
mereka yang mendukung anggapan adanya warna Aleksandria yang kuat di dalam surat
ini.
(3) Surat ini ditujukan bagi sebuah jemaat
Kristen Yahudi yang beribadah di Roma dan berada dalam pencobaan dan
penganiayaan yang berat. Pandangan "jemaat di Roma" juga cenderung
menganut teori "satu jemaat," yakni bahwa para penerima pertama surat
ini adalah sebuah jemaat kecil, atau suatu "persekutuan rumah tangga"
di Roma.
(4) Sebuah modifikasi dari (3). Jemaat yang
dituju oleh surat Ibrani merupakan jemaat yang kecil, tetapi mereka bisa berada
di mana saja di wilayah kerajaan Romawi, dan tidak harus di Roma.
Alasan-alasan
yang kuat telah dikemukakan untuk semua pandangan tersebut; semuanya juga sarat
dengan persoalan. Bukti dari dalam surat ini sendiri hampir tidak membantu
dalam memecahkan persoalan-persoalan di antara berbagai teori itu. Secara
tersirat ada disebut Yerusalem . dengan cara yang pasti dipahami oleh semua
orang Yahudi. Penyebutan Italia bersifat umum sehingga nyaris tidak membantu
dalam menentukan tujuan semula surat ini.
Namun
ada satu hal yang jelas. Orang-orang kepada siapa surat ini dituju dikenal
sebagai orang Ibrani dan mengaku Kristen. Sebagaimana ditunjukkan oleh Downer,
yang kelihatan ialah orang Ibrani dan sudut pandang Ibrani yang berlaku (Arthur
Cleveland Downer, \@The Principles of Interpretation of the Epistle to the
Hebrews,\@ hlm. 8). Orang-orang Kristen Ibrani ini telah menderita kerugian,
mereka diejek, banyak mengalami pencobaan, kehilangan hak istimewa, dianiaya,
dicemooh dan dibenci secara terbuka oleh sesama orang Yahudi. Namun keadaan
semacam ini bisa terjadi di mana saja di seluruh wilayah Romawi pada abad
pertama.
Kenyataannya
ialah bahwa semua teori yang dikemukakan memiliki unsur mungkin dan tidak
mungkin yang sama besarnya. Pembahasan mengenai masalah tujuan dari surat ini
dapat diperiksa secara panjang lebar dalam karya Farrar, CGT; A. B. Davidson,
The Epistle to the Hebrews, Archer, The Epistle to the Hebrews: A Study Manual;
William Manson, The Epistle to the Hebrews, An Historical and Theological
Reinterpretation; dan IB, XI. Mengenai pandangan yang sekarang. teori
"Yerusalem" dikemukakan secara paling baik oleh William Leonard,
Authorship of the Epistle to the Hebrews: Critical Problem and Use of the Old
Testament. Teori "Roma" dan "satu jemaat" dipertahankan
secara paling baik oleh William Manson yang menunjukkan bahwa arsip surat
sebuah jemaat di Roma yang mula-mula menyimpan surat yang berisi nasihat dan
peringatan ini. Namun pernyataan ini pun merupakan dugaan saja.
Kepenulisan
Siapa penulis surat Ibrani tetap merupakan
masalah terbesar bagi mereka yang mempelajari kitab ini. Penulis-penulis yang
ditunjukkan jumlahnya banyak, demikian pula pandangan yang mendukung setiap
pendapat itu. Rasul Paulus. Apolos, Barnabas, Lukas, Timotius. Akwila dan
Priskilla, Silas, Ariston dan Filipus sang diaken semuanya pernah ditunjuk
sebagai penulis, lengkap dengan alasan-alasan pendukungnya. Penelitian terhadap
tradisi dari gereja mula-mula dan dari para Bapa gereja, baik Timur maupun
Barat, hanya membuktikan bahwa ada aneka ragam pandangan.
Surat
ini sendiri tidak menyebutkan atau bahkan menyinggung secara tersirat sekalipun
siapa yang menulisnya. Terdapat dua pandangan utama yang paling menonjol dalam
menetapkan penulis surat ini.
(1)
Bahwa Pauluslah penulis surat ini. Alasan yang diajukan untuk mendukung
pandangan ini juga telah dikembangkan sampai mencakup kemungkinan adanya
seorang penulis tidak dikenal yang telah dibina dan dipengaruhi oleh rasul
Paulus, sehingga memberikan warna Paulus yang khas kepada surat ini.
(2)
Tradisi Aleksandria dan pengaruhnya, berlandaskan penggunaan Perjanjian Lama
terutama secara tipologi. Pemikiran di sini menemukan bahwa analogi-analogi
tertentu dalam Kitab Ibrani serupa dengan sejumlah analogi dalam karya Filo
dari Aleksandria. Pandangan ini sekarang hanya sedikit pengaruhnya. Sebagaimana
dicatat dalam SHERK, II. 877, pengaruh Filo terhadap penulis surat Ibrani tidak
diakui oleh sebagian besar pakar, sedangkan pada saat yang bersamaan
pengaruhnya atas para leluhur Aleksandria pada umumnya diakui.
Alasan yang mendukung kepenulisan Paulus
sangat bersandar pada pasal terakhir (13) dari surat ini. Sifat pribadi dari
pasal ini merupakan ciri khas dari rasul Paulus, demikian pula gaya penulisan
suratnya. Penyebutan Timotius dan Italia
tampaknya berhubungan langsung dengan sang rasul. Di samping itu,
terdapat persamaan yang menonjol di antara bahasa kitab ini dengan bahasa
surat-surat Paulus; dan argumentasi kristologi yang terdapat di dalam surat ini
sama dengan kristologi Paulus di dalam surat-suratnya. Sebagian besar dari
argumentasi ini bersifat terlalu cepat menarik kesimpulan sebab
kesamaan-kesamaan tersebut juga dapat dijumpai pada setiap penulis Kristen pada
awal sejarah kekristenan. Dukungan terhadap kepenulisan Paulus yang mungkin
tanpa tandingan terdapat di dalam karya William Leonard, authorship of the
Epistle to the Hebrews: Critical Problem and Use of the Old Testament.
Berbagai alasan yang menentang kepenulisan
Paulus adalah sebagai berikut: (1) tidak disebutnya nama rasul Paulus secara
khusus sebagai penulis sebagaimana dilakukan olehnya di dalam surat-surat yang
diakui telah ditulis olehnya; (2) pemakaian bahasa yang kaidah penyusunan,
pembahasan dan gaya penulisannya lebih tinggi daripada yang digunakan Paulus;
dan (3) pengembangan logika dari argumentasi yang dikemukakan bukan merupakan
ciri Paulus. Irama surat Ibrani bersifat retoris dan Hellenistis, dan gaya
penulisannya, secara umum, jauh lebih tenang dan ketat dibandingkan dengan gaya
penulisan Paulus.
Berbagai perbedaan doktrinal tampak di dalam
(1)
pembahasan tentang iman,
(2)
pandangan eskatologis yang dikemukakan dalam pasal #/TB Ibr 12*,
(3)
penerapan hukum Musa di dalam argumentasinya, dan
(4)
konsep tentang tempat ibadah. Leonard bahkan mengemukakan bahwa kebiasaan untuk
menganggap Perjanjian Lama sebagai "gudang contoh", bukan merupakan
ciri khas surat-surat Paulus.
Lalu apa yang diketahui tentang surat ini?
Penulis surat ini adalah seorang yang cukup memahami Alkitab, seorang teolog
alkitabiah yang berpikir dari segi sejarah penebusan dan cukup mengenal
Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (LXX). Sekalipun dia adalah orang Yahudi,
dia sangat memahami kebudayaan Helenistis maupun tradisi Yahudi. Dia adalah
seorang pemikir bebas yang mungkin terpengaruh oleh rasul Paulus dan para pemikir
Aleksandria. Dia berhasil menciptakan sebuah bentuk karya tulis yang unik.
berbeda dengan kitab-kitab lainnya di dalam Perjanjian Baru.
Penulis ini sepenuhnya setia pada pokok
bahasannya yaitu menjelaskan hubungan antara Yudaisme dengan agama Kristen,
yang dilakukan dengan terus menerus mengemukakan keunggulan mutlak dari
kekristenan. Mungkin dia adalah seorang pengkhotbah-pengajar, seorang yang
cukup paham dengan hubungan pembicara-pendengar sehingga memiliki gaya
menasihati-menjelaskan-mengingatkan yang dimanfaatkan olehnya secara
berhasilguna. di dalam memanfaatkan metode ini, penulis menunjukkan bahwa
dirinya bukan sekedar tahu sepintas tentang pikiran rasul Paulus.
Bagaimanapun juga, identitas yang sesungguhnya
dari penulis surat ini tetap tidak diketahui. Sebagai kesimpulan, mungkin
pandangan Origenes (abad ketiga) yang dikutip oleh Eusebius (abad keempat)
nyaris tidak bisa lebih disempurnakan lagi mengenai pernyataannya tentang
masalah kepenulisan ini,
"Gaya penulisan surat ini dengan judulnya
‘kepada orang Ibrani,’ tidak menunjukkan gaya besar yang dimiliki oleh sang
rasul, yang mengakui bahwa ia hanya memakai bahasa sehari-hari, yaitu dalam
kalimat-kalimatnya. Tetapi bahwa bahasa Yunani surat ini lebih murni di dalam
penyusunan kalimat-kalimatnya akan diakui oleh setiap orang yang mampu
menangkap perbedaan gaya tersebut. Juga akan tampak bahwa gagasan yang
dikemukakan oleh surat ini sangat indah, dan tidak kalah dengan kitab manapun
yang ditulis oleh seorang rasul. Setiap orang yang membaca tulisan para rasul
dengan cermat pasti akan mengakui kenyataan ini."
Sesudah
itu Eusebius menambahkan atau mencantumkan,"Tetapi saya hendak mengatakan
bahwa pemikiran yang dikemukakan dalam surat ini adalah milik sang rasul,
tetapi gaya penulisan dan kalimat-kalimat yang dipakai adalah milik seseorang
yang telah mencatat apa yang dikatakan oleh sang rasul, dan seseorang yang
telah mencatat pada waktu luangnya apa yang dikemukakan oleh gurunya itu. Jika
karena itu ada gereja yang menganggap surat ini sebagai berasal dari rasul
Paulus, hendaknya gereja tersebut dipuji, sebab orang-orang zaman dahulu itu
juga tidak mengedarkan surat ini tanpa alasan yang jelas. Tetapi siapa yang
sesungguhnya menulis surat ini, hanya Allah yang tabu" .
Penerimaan Surat Ini di Kalangan Gereja.
Di luar Perjanjian Baru surat ini disebut
pertama kali di dalam Epistle to the Corinthians yang ditulis oleh Clemens dari
Roma. Surat ini dikenal oleh gereja Timur maupun Barat. tetapi tampaknya tidak
begitu dikenal di Barat hingga sesudah abad keempat. Para Leluhur Aleksandria
secara aktif tertarik untuk membahas masalah-masalah dari surat ini, dan baik
Clemens maupun Origenes menafsirkan amanat surat ini serta membahasnya secara
panjang lebar. Judul "Kepada Orang Ibrani" muncul pada akhir abad
kedua dan sejak itu dipakai secara umum.
Sejak semula surat ini telah diterima di dalam
kanon. Tidak ada tokoh berwewenang, terkecuali Tertulianus, yang tidak
mencantumkan surat ini di dalam kanon Perjanjian Baru. Pada akhir abad keempat
Barat menjadi lebih’tertarik kepada surat ini. dengan Jerome di dalam karyanya
Epistle 129 secara terus terang menyebutkan bahwa ia tanpa ragu menerima Surat
Ibrani di dalam kanon Perjanjian Baru. Pandangan ini dianut secara konsisten
oleh para tokoh abad pertengahan dan kelompok humanis menerimanya. Erasmus,
sarjana humanis terkemuka, dan Luther, sang Reformator, menerima surat ini
sebagai bagian dari kanon Perjanjian Baru, sekalipun pandangan mereka mengenai
penulisnya berbeda. Kelompok pasca-Reformasi tidak berhasil mempersoalkan
kanonitas surat ini, tetapi lebih memperhatikan masalah kepenulisannya.
Alur
Pembahasan Surat Ini.
Tesis
penulis surat ini rupanya tertuang dalam dua pokok pikiran yang masing-masing
dijelaskan dan diilustrasikan menurut logika argumennya. Pokok pikiran yang
pertama terungkap di dalam istilah "pandanglah yang dipakai pada Dalam setiap peristiwa itu nasihat yang
diberikan adalah untuk memandang Kristus. Di dalam Ibr 3:1 Dia harus dipandang sebagai Rasul dan
Imam Besar yang kita akui," dan dalam
Ibr 12:3 Dia harus dipandang sebagai orang yang tekun, sebagai teladan
utama dalam hidup beriman. Dengan istilah "pandanglah" yang
dimaksudkan oleh penulis adalah merenungkan, mempelajari, meneliti dengan
cermat, pikirkan dengan sungguh-sungguh. Perhatikan bahwa orang-orang percaya
diingatkan untuk memandang Kristus, dan bukan hanya melihat alasan yang masuk
akal mengapa Dia harus dipandang, sebagaimana dikemukakan dalam surat ini.
Melalui alur pembahasan di dalam surat ini,
pembaca dituntun untuk "memandang Dia" di dalam imamat dan
pengorbanan-Nya. Berbagai kontras yang dibuat di sepanjang surat ini secara
meyakinkan menunjukkan keunggulan Kristus atas malaikat. Musa, Harun,
Melkizedek, sistem Imamat, dan akhirnya bahkan atas semua teladan terbesar dari
hidup beriman yang dicatat oleh Perjanjian Lama (pasal Ibr 11). Selaku imam
Allah dan persembahan kurban yang diterima oleh Allah, Kristus kini berbicara
dari dalam tempat ibadah, memberikan jaminan kepada setiap orang percaya untuk
mendapat jalan masuk langsung ke hadirat Allah, dan kepastian bahwa semua
permohonan dan permintaan akan didengar ( Ibr 4:14-16).
Pokok pikiran yang kedua dijumpai di dalam
istilah nasihat (paraklesis) dengan kata kerja pendampingnya, "Aku
menasihatkan" ( Ibr 13:22). Pokok pikiran ini pernah disebut sebagai judul
informal dari surat ini. Farrar (CBSC) menunjukkan bahwa seluruh informasi yang
ada di dalam surat ini bertujuan untuk menasihati pembacanya. Penganiayaan.
pencobaan dan kesulitan akan menjadi lebih ringan apabila orang Kristen. yang
juga orang Yahudi mau "memandang Dia" (Ibr 12:3) dan menyambut
"nasihat ini" (Ibr 13:22). Argumen pendukung bagi tema ganda ini
kemudian diteguhkan oleh argumen keunggulan-kekristenan-atas-Yudaisme yang
untuknya nasihat ini diarahkan.
Tujuan
utama surat ini ialah memberikan informasi kepada orang-orang Kristen yang
kecil hati dan juga memberi mereka semangat, dan mendukung kedua pendekatan
tersebut dengan memanfaatkan sejumlah contoh dari Kristus dan dari orang-orang
yang telah hidup berhasil oleh iman. Sebagai inti dari semua ini penulis
menempatkan kekekalan (karena itu tidak berubah) dari imamat Kristus
"menurut cara Melkisedek" (pasal #/TB Ibr 7*).
Aneka
Gagasan dan Konsep Penulis:
Sumber dan Penggunaan. Bentuk dan
gaya penulisan yang khas menjadikan surat Ibrani berbeda dengan surat-surat
lainnya dalam Perjanjian Baru. Penulisnya menggunakan metode, pengaturan dan
tehnik penulisan yang berbeda dengan penulis Perjanjian Baru lainnya. Dia juga
mengungkapkan gagasan dan perpaduan pikiran dengan peristiwa yang khas dirinya.
Karena tujuan utama dari surat ini bersifat praktis, yaitu untuk mencapai
kepraktisan, penulis membawa semua konsep teologisnya ke dalam kerangka acuan
khusus tentang nasihat, peringatan dan penghiburan ini. Ia berkonsentrasi pada
berbagai konsep dan ide teologis yang ia anggap penting. Pertimbangannya atas
nama para pembaca adalah karena inilah yang paling diperlukan oleh orang-orang
percaya agar mereka kuat imannya.
Dia
membahas ide-ide ini sebagai seorang pembicara, yaitu dengan mengemukakan
kebenaran demi kebenaran untuk mendukung pokok pembahasan utama. Di antaranya disisipkan
sejumlah peringatan yang rupanya khusus dirancang untuk mengingatkan kepada
para pendengar (pembaca) mengenai berbagai akibat yang timbul kalau orang tidak
memahami kebenaran mengenai Kristus.
Gaya
penulisan yang sangat indah ditunjukkan oleh penulis surat ini. Rupanya latar
belakang pendidikan telah memberikan kepadanya kemahiran mengenai cara-cara
menyusun sebuah karya sastra. Bahasa Yunani yang dipakai olehnya mungkin
termasuk yang paling sempurna, sejajar dengan yang dipakai oleh Lukas. Kedalaman
dan keakraban budaya yang ia miliki juga tampak dengan jelas. Penulis
kelihatannya menyadari dan menunjukkan pengaruh gaya hidup Yunani (Helenisasi)
atas Yudaisme dan atas dunia Mediterania.
Di dalam ide-ide yang diungkapkan secara
nyata, penulis melandaskan pembahasan teologisnya pada ayat-ayat Alkitab dan
mengembangkannya dengan menempatkan alam dunia yang seperti bayangan berhadapan
dengan alam nyata, atau surga. Sumber Perjanjian Lama atau Alkitab yang dipakai
olehnya adalah Septuaginta atau LXX. Dalam beberapa hal, kata-kata yang
dipergunakan dalam LXX tidak ada di dalam teks Ibrani yang ada pada kita. Untuk
membuktikan bahwa alam surgawi merupakan alam nyata. penulis menjadikan semua
nas kalau bisa untuk dikaitkan dengan Kristus. Seluruh Perjanjian Lama.
sebagaimana digunakan oleh penulis surat ini, merupakan paparan
berkesinambungan yang mengungkapkan pribadi dan karya Tuhan Yesus Kristus.
Jalan masuk ke alam surgawi dan pemahaman kita akan alam tersebut juga terdapat
di dalam Kristus.
Penulis surat Ibrani adalah satu-satunya
penulis Perjanjian Baru yang membahas sejumlah pokok tertentu. Tidak ada
penulis Perjanjian Baru lain. misalnya, yang membahas makna Melkisedek (Ibr
7:1-14). Suatu cara baru untuk menghargai peranan para leluhur Israel juga
dijumpai di dalam pasal Ibr 11. Beberapa aspek dari kehidupan Musa yang
ditekankan di dalam surat ini juga tidak dibahas di dalam kitab-kitab yang
lain. Pokok tentang pertobatan disajikan secara berbeda (Ibr 12:17) seperti
halnya pokok tentang dosa yang disengaja (Ibr 10:26). Banyak konsep pribadi
dari sang penulis telah menimbulkan kesulitan penafsiran bagi angkatan-angkatan
berikutnya.
Pokok yang dikembangkan secara paling lengkap
di dalam surat ini ialah keimaman Kristus. Pokok ini merupakan pokok khas surat
Ibrani, pokok yang paling penting untuk dipahami. Waktu mengemukakan konsep
tersebut tampak tiga buah "sumber":
(1)
lembaga imamat dan upacara kurban dalam Perjanjian Lama atau sistem Imamat;
(2)
Yudaisme; dan
(3)
kekristenan rasuli. Pengaruh lain apa pun yang mungkin ada, ketiga sumber
inilah yang paling menonjol.
Selaku imam, Kristus dipanggil
secara ilahi, dan manunggal dengan kemanusiaan. Dia memenuhi kebutuhan umat-Nya
(Ibr 2:17-18). Dia membuka jalan menuju hadirat Allah (Ibr 10:19,20), dan
membuka "tempat yang maha kudus" dan "takhta kasih karunia"
(Ibr 4:14-16). Dia menjadi persembahan kurban yang sempurna dan terakhir (Ibr
10:18). Oleh pelayanan imamat Kristus, orang percaya mendapat kekuatan iman dam
kehormatan untuk menyembah. Mungkin tidak ada kitab di dalam Perjanjian Baru
yang lebih sempurna mengemukakan persekutuan dengan Allah melalui penyembahan
dibandingkan dengan surat ini.
Kristologi
Kitab Ibrani itu kaya, tetapi terutama hal itu dikemukakan di dalam pelayanan
dan fungsi Kristus selaku imam. Kristus pertama kali diperkenalkan sebagai
Oknum yang menyatakan Allah (Ibr 1:1) dan pelaksana penciptaan (Ibr 1:1-4)..Makna
dari kata gambar wujud pada Ibr 1:3 tidak boleh diabaikan. Sesudah pendahuluan
ini, pembahasan Kristologi dengan cepat mengalir ke dalam argumen utama tentang
pelayanan Kristus selaku imam.
Ajaran
moral dari surat Ibrani memiliki standar yang paling tinggi dan sepenuhnya
kristiani, sekalipun disajikan secara umum. Hanya di dalam pasal Ibr 13 ajaran
moral surat ini bersifat khusus dan terarah. Kasih persaudaraan (Ibr 13:1),
kemurahan terhadap orang asing (Ibr 13:2) dan mereka yang kurang beruntung (Ibr
13:3), pernikahan yang terhormat (Ibr 13:4). sikap yang benar terhadap kekayaan
materiil (Ibr 13:5), menghormati penatua (Ibr 13:7,17) melakukan perbuatan baik
(Ibr 13:16) diperintahkan secara positif. Untuk semua hal ini seorang Kristen
tidak memiliki pilihan. Banyak dari perintah moral dalam surat ini terdapat
dalam analogi imamat sehingga tidak segera kelihatan seperti dalam Injil-injil
Sinoptis atau dalam beberapa surat Paulus.
Mengenai nilai praktisnya, surat Ibrani
secara kokoh berlandaskan pada kenyataan bahwa Kristus memenuhi kebutuhan semua
orang pada setiap saat (termasuk manusia modern). Setiap saat manusia dapat
menghampiri Allah melalui Kristus. Di dalam konsep ini terungkap kesatuan
sejarah sebagai bersifat langsung dan menyelamatkan. dengan Allah yang melalui
Kristus menentukan nasib umat manusia sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya.
Surat Ibrani tidak membuat sebuah filsafat sejarah yang berbeda dengan yang
terdapat dalam kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru.
Bentuk
Dan Gaya Penulisan.
Hanya bagian mulai Ibr 13:17 hingga Ibr 13:25
yang membuat kitab ini memenuhi syarat sebagai surat. Tetapi jenis penulisan
kitab ini merupakan masalah. Diawali bagaikan sebuah risalah, dilanjutkan
bagaikan sebuah khotbah dan diakhiri bagaikan sebuah surat. Bentuk awalnya yang
sekarang merupakan satu-satunya bentuk awal yang dimiliki kitab ini. Di
dalamnya tidak terdapat salam ataupun sebutan yang bersifat pribadi. Di dalam
bentuk sastranya terdapat beberapa ciri khas. Waktu mengutip Perjanjian Lama si
penulis dapat memakai sebuah ayat secara harfiah, secara historis ataupun
secara tipologis. Konsistensi penulis hanya terdapat dalam kenyataan bahwa
caranya mengutip nas Perjanjian Lama mendukung alur pembahasan utamanya ketika
dicantumkan.
Telah
ditunjukkan bahwa semua nasihat dan peringatan di dalam surat Ibrani
menggolongkan kitab ini sebagai bersifat polemik, dengan bentuk akhir yang
seperti surat sebagai cara untuk mengakhiri polemik tersebut. Jika gagasan ini
benar, maka sang penulis secara menakjubkan sanggup mengelak menyebut dirinya.
Acuan-acuan yang bersifat otobiografis tidak ada sama sekali, dan berbagai
metafora yang dipakai memperkuat polemik itu tanpa menunjukkan satu pun
petunjuk tentang siapa yang melancarkan polemik ini.
Selama ini ada pendapat bahwa bentuk sastra
utama dari surat Ibrani mengikuti pola Aleksandria yang diciptakan oleh Filo
(lihat J. Herkless , Hebrews and the Epistles General of Peter, Janzes and
John; juga IB). Cara sang penulis mengkontraskan alam surgawi dengan alam
duniawi, alam "bayangan" dengan alam nyata oleh kalangan tertentu
dianggap sebagai teknik penulisan yang diambil alih dari Filo dari Aleksandria.
IB menyebut gaya ini pandangan "bertingkat dua" tentang realitas yang
mengendalikan seluruh pemikiran surat Ibrani (XI, 583).
Pandangan lain yang dikemukakan ialah (1)
bahwa pengaruh Filo dapat diabaikan, atau (2) bahwa teori pengaruh Filo ini sama sekali
tidak benar. Manson cenderung memperkecil pengaruh Filo (William Manson, The
Epistle to the Hebrews, An Historical and Theological Reinterpretation). A. B.
Davidson, ketika membahas penulis surat Ibrani berbicara tentang jejak-jejak
pengaruh dari "kebudayaan Aleksandria atas bahasa yang dipakainya."
tetapi tidak mengajukan alasan untuk mendukung pandangan pengaruh Filo ini.
Jadi dalam hal tertentu, asal-usul dari bentuk surat Ibrani tetap merupakan
masalah terbuka. (3) Sekalipun demikian, Spicq (L’ epitre aux Hebrews),
mencatat cukup banyak petunjuk yang ia anggap sebagai menunjukkan latar
belakang pemikiran Filo.
Bagaimanapun juga, yang jelas adalah bahwa penulis
surat ini secara sistematis mengemukakan serangkaian ide dasar yang
berdasarkannya ia mengaitkan nas-nas dari Perjanjian Lama dengan
argumen-argumen. Diterima atau tidaknya gagasan yang dikemukakan ini bukan
tujuan sang penulis. Yang lebih diharapkan olehnya ialah agar orang-orang
percaya memahami sepenuhnya semua gagasan tersebut dan bertindak sesuai
dengannya. William Leonard (hlm. 221) berhasil menemukan tujuh buah gagasan
semacam itu: (1) kedudukan Kristus sebagai Anak; (2) imamat Kristus, dasar bagi
pembersihan dari dosa: (3) imam yang duduk di sebelah kanan Allah, dasar bagi
pengharapan Kristen:
(4) janji Allah kepada Abraham; (5) permanennya "perhentian Sabat" yang dijanjikan; (6) berbagai akibat dari kemurtadan; dan (7) nasihat untuk hidup suci dengan mengingat masa depan. IB mencatat adanya tiga belas gagasan pokok semacam itu, yang mencakup ketujuh gagasan di atas, tetapi menambahkan beberapa gagasan seperti janji bahwa Kristus akan datang kembali, kalahnya Iblis. kemenangan atas maut, dalam janji akan kelepasan orang-orang percaya dari perbudakan. Semua gagasan ini adalah kesatuan-kesatuan yang konstan: dan haik dalam bentuk maupun gaya penyajiannya, segala sesuatu dijadikan mengacu kepada salah satu atau lebih gagasan dasar tersebut.
(4) janji Allah kepada Abraham; (5) permanennya "perhentian Sabat" yang dijanjikan; (6) berbagai akibat dari kemurtadan; dan (7) nasihat untuk hidup suci dengan mengingat masa depan. IB mencatat adanya tiga belas gagasan pokok semacam itu, yang mencakup ketujuh gagasan di atas, tetapi menambahkan beberapa gagasan seperti janji bahwa Kristus akan datang kembali, kalahnya Iblis. kemenangan atas maut, dalam janji akan kelepasan orang-orang percaya dari perbudakan. Semua gagasan ini adalah kesatuan-kesatuan yang konstan: dan haik dalam bentuk maupun gaya penyajiannya, segala sesuatu dijadikan mengacu kepada salah satu atau lebih gagasan dasar tersebut.
Yang menjadi inti dari semua gagasan ini ialah
konsep tentang Kristus selaku imam sempurna Allah yang menetapkan perjanjian
baru melalui karya imamat-Nya dan juga melalui kematian-Nya sebagai kurban.
Kristologi tinggi dari surat Ibrani ini tidak diragukan lagi. Namun sekalipun
Kristologi surat ini didukung oleh begitu banyak masukan dari Perjanjian Lama
dan gagasan lain yang pokok dalam surat ini, persoalan membingungkan berupa
akhir berbentuk surat mulai dari Ibr 13:17 ke belakang tetap ada. Empat
penyelesaian yang mungkin bagi persoalan membingungkan itu adalah: (1) Bahwa
penulis menulis surat ini kepada kelompok tertentu dan sejak semula sudah
menetapkan akan mengakhiri karyanya dengan cara ini; (2) Bahwa surat yang
asli.dikirim ke sidang pembaca yang kedua, dan bahwa bagian akhir yang baru
telah ditambahkan untuk menolong kelompok yang kedua ini; (3) Bahwa seorang
lain dan bukan penulis yang telah menambahkan bagian akhir tersebut ketika
mengirimkannya kepada kelompok yang lain; (4) Bahwa seorang telah menambahkan
bagian akhir ini untuk memberikan kesan bahwa seluruh surat ini ditulis oleh
Paulus. Dari keempat gagasan tersebut, gagasan pertama dan keempat merupakan
gagasan yang paling masuk akal.
Beberapa ciri dari gaya penulisan surat ini
juga tampak menyolok. Penulis memiliki kebiasaan untuk memulai kutipan dari
Perjanjian Lama dengan "Allah berfirman" (Ibr 4:3; 5:5,6; 8:10; dan
"Roh Kudus mengatakan" (Ibr 3:7). Penulis juga biasa memperkenalkan
bagian-bagian dari uraiannya beberapa saat sebelum dia membahasnya secara
lengkap. Karena itu setiap uraian yang agak panjang dalam surat ini mempunyai
pernyataan pendahuluan. Pada semua bagian dia mengacu kepada hukum ritual dan
bukan hukum moral atau hukum sosial dari hukum Taurat, seperti tentang
hari-hari raya. Secara khas penulis memakal nama "Yesus" dan bukan
memakai nama lengkap-Nya sebagaimana yang digunakan oleh rasul Paulus.
Selanjutnya. waktu memperkenalkan "Yesus" sebagai "jalan yang
baru dan yang hidup penulis tidak berbelok dari alur pemikiran atau meninggalkan
uraiannya secara tidak lengkap. Penulis surat ini rupanya benar-benar menguasai
diri dan menguasai teknik-teknik penulisan yang dipakai olehnya.